Penggerebekan Dapur SPPG di Kutelintang Blangkejeren Gayo Lues Gegerkan Warga

SUARA PUBLIK NASIONAL

- Redaksi

Kamis, 16 Juli 2026 - 09:35 WIB

5027 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BLANGKEJEREN — Dugaan praktik asusila di lingkungan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kutelintang, Blangkejeren, Gayo Lues, memantik kegelisahan masyarakat setempat. Fasilitas negara yang semestinya menjadi tumpuan pemenuhan gizi anak-anak di Kabupaten Gayo Lues, justru diduga dimanfaatkan sebagai “sarang mesum” oleh oknum tertentu. Peristiwa ini menambah daftar panjang penyalahgunaan aset publik dan menjadi pukulan telak bagi upaya pemerintah dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap program sosial di daerah.

Peristiwa penggerebekan itu terjadi pada Rabu malam, 15 Juni 2026, sekitar pukul 00.00 WIB. Sejumlah warga yang mencurigai aktivitas dua orang di lingkungan dapur SPPG segera melapor ke Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP/WH) Gayo Lues. Tak berselang lama, petugas langsung bergerak menuju lokasi.

Seorang anggota Satpol PP Gayo Lues, saat dikonfirmasi wartawan pada 15 Juli 2026, secara tegas membenarkan bahwa pihaknya menerima laporan masyarakat terkait dugaan perbuatan mesum di dapur SPPG. Anggota tersebut mengakui, petugas memang mendatangi lokasi dan sempat meminta keterangan dari pihak-pihak yang diamankan di tempat kejadian.

Namun demikian, menurut keterangan anggota tersebut, proses hukum selanjutnya akhirnya diserahkan kepada aparatur adat dan tokoh masyarakat Kampung Kutelintang. Langkah ini dilakukan atas pertimbangan kearifan lokal dan permintaan musyawarah warga, yang saat itu memilih mekanisme penyelesaian secara adat sesuai kebiasaan di Gayo Lues.

Pengakuan anggota Satpol PP Gayo Lues ini memperkuat kabar yang selama ini santer beredar di tengah masyarakat. Sejumlah tokoh masyarakat menyesalkan tindakan sejumlah oknum yang dinilai mencemari institusi layanan publik. Tidak sedikit warga yang meminta kasus dugaan “sarang mesum” di fasilitas negara seperti dapur SPPG diungkap seterang mungkin dan diusut secara hukum.

Kritik juga muncul terkait lemahnya pengawasan, padahal fasilitas dapur SPPG seharusnya steril dari segala bentuk pelanggaran moral maupun etika. Penggunaan dapur negara di luar aktivitas resmi dinilai telah melecehkan amanah publik, apalagi jika menyinggung kepentingan pemenuhan hak dasar anak-anak atas makanan sehat dan bergizi.

Berkaca pada kasus ini, sorotan diarahkan langsung kepada tanggung jawab institusi pengelola dapur, termasuk pola pengawasan oleh pihak dinas sosial dan pemerintah daerah. Masyarakat menuntut transparansi lebih luas, bukan hanya soal motivasi pelaku di balik dugaan perbuatan melanggar syariat di dapur SPPG, tetapi juga tentang sejauh mana aparat menindaklanjuti, mendokumentasikan, dan mempublikasikan hasil pemeriksaan kasus kepada publik.

Secara regulasi, pelanggaran nilai moral di Aceh, khususnya tindakan mesum di tempat umum, telah diatur dalam Qanun Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat serta Undang-Undang Pemerintahan Aceh. Namun, jika kemudian penyelesaian berhenti pada tahapan adat dan tidak ada penegakan hukum secara nyata, muncul kekhawatiran soal impunitas bagi pelaku dan potensi kejadian serupa di masa mendatang.

Kasus dugaan penyalahgunaan dapur negara sebagai “sarang mesum” di Kabupaten Gayo Lues saat ini terus menjadi bahan perbincangan. Publik berharap pemerintah daerah segera mengambil sikap tegas, menjelaskan kronologi dan hasil penanganan, serta memperketat pengawasan agar fasilitas pelayanan publik tak lagi ternodai oleh ulah segelintir oknum tak bertanggung jawab. (TIM MEDIA)

Berita Terkait

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Tangkap Pengedar Sabu, Amankan 19 Paket Narkotika Seberat 4,34 Gram
Polri Hadir di Tengah Bencana, Warga Dabun Gelang Dapat Pelayanan dan Bantuan Langsung
Brimob Polda Aceh, Tangguh Dan Tulus Mengayomi Masyarakat Gayo Lues
Kasus PT Rosin Naik Babak Baru, Dugaan Pengaburan Bukti Lingkungan Muncul Setelah Limbah Mendadak Menghilang
Negara Dipertaruhkan di Gayo Lues, PT Rosin Chemicals Indonesia Disebut Tetap Produksi Meski Sanksi Pembekuan Sudah Dijatuhkan
PT Rosin Chemicals Indonesia Diduga “Kibuli” Puslabfor Mabes Polri, Perlibas Gayo Minta Penegakan Hukum Lingkungan Secara Tegas
Cerobong PT Hopson Kembali Hitamkan Langit Gayo Lues, Publik Desak Aparat Jangan Hanya Diam
Sanksi Administratif Tak Digubris, PT Hopson Kembali Beroperasi dan Picu Kemarahan Warga Gayo Lues

Berita Terkait

Kamis, 9 Juli 2026 - 17:53 WIB

Bea Cukai Aceh Gagalkan Dugaan Penyelundupan 2,9 Kg Emas ke Malaysia

Jumat, 3 Juli 2026 - 09:37 WIB

Misteri Mess Sabang Kembali Mencuat, Mengapa Proyek Mangkrak Bernilai Puluhan Miliar Kembali Dilelang?

Jumat, 22 Mei 2026 - 12:20 WIB

Penuh Haru! Safrizal ZA Jenguk Abu Doto di RSUDZA, Doakan dr. Zaini Abdullah Segera Pulih

Jumat, 22 Mei 2026 - 05:38 WIB

Wakil Ketua DPRA Ali Basrah: Soal Anggaran JKA Tak Bisa Tergesa, APBA Perubahan Harus Ikuti PP 12/2019

Selasa, 19 Mei 2026 - 03:57 WIB

Suryadi Djamil Apresiasi Pencabutan Pergub JKA, Desak Evaluasi Pejabat Terkait

Jumat, 15 Mei 2026 - 17:26 WIB

Negeri Syuhada: Ketika Hukum Diinjak, Alam Menjadi Saksi

Kamis, 14 Mei 2026 - 19:45 WIB

Michael Octaviano vs Chaidir: Adu Rekam Jejak, Birokrasi atau Gerakan Sosial yang Dibutuhkan Dinsos Aceh?

Kamis, 14 Mei 2026 - 08:08 WIB

Suryadi Djamil: Layanan JKA Tetap Berjalan, Validasi Data Penting demi Efisiensi Anggaran

Berita Terbaru