Kupang,
Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kupang kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung program ketahanan pangan nasional melalui kegiatan Panen Raya Jagung yang dilaksanakan di Kebun Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Kupang, Jumat (22/5).
Kegiatan ini menjadi bukti nyata keberhasilan pembinaan kemandirian warga binaan sekaligus keberhasilan pemanfaatan lahan batu karang menjadi lahan produktif bernilai ekonomi.
Kegiatan panen raya tersebut merupakan hasil kerja sama antara Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Nusa Tenggara Timur bersama PT. Silvano Maynard Jaya (SMJ), yang selaras dengan program Asta Cita Presiden Republik Indonesia serta 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Panen raya berlangsung meriah dan dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) tingkat Provinsi maupun Kota Kupang, tokoh masyarakat, mitra kerja sama, serta para pemangku kepentingan lainnya. Hamparan jagung yang tumbuh subur di atas lahan berbatu karang menjadi perhatian dan kebanggaan seluruh tamu undangan yang hadir.
Kepala Lapas Kelas IIA Kupang, Wawan Irawan, menyampaikan bahwa dirinya merasa bangga melihat perubahan besar yang terjadi di lingkungan Lapas Kupang. “Ini suatu acara yang sangat luar biasa. Saya baru tiga minggu di sini, tetapi saya melihat lahan Lapas ini lima tahun lalu masih berupa batu karang. Saat saya datang, lahan batu karang ini sudah penuh dengan jagung. Ternyata lahan batu karang ini juga mampu menumbuhkan jagung yang sangat luar biasa,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut menjadi bukti nyata bahwa Lapas Kupang mampu mendukung program ketahanan pangan nasional melalui pembinaan warga binaan. “Ketahanan pangan ini sesuai dengan program Asta Cita Presiden Republik Indonesia serta 15 Program Aksi Kemenimipas. Kanwil Ditjenpas NTT mampu bekerja sama dengan PT SMJ untuk mengolah lahan batu karang menjadi lahan produktif yang mendukung ketahanan pangan. Ini sungguh luar biasa dan semoga kerja sama ini terus berlanjut dengan pengembangan tanaman lainnya,” tambah Wawan.
Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas NTT, Ketut Akbar Herry Achjar, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari proses pemberdayaan warga binaan agar memiliki keterampilan dan pengalaman kerja nyata selama menjalani masa pidana. “Kegiatan ini untuk pemberdayaan warga binaan. Kami tidak bisa sendiri dalam melakukan pembinaan, sehingga membutuhkan dukungan pemerintah dan masyarakat. Walaupun ini lahan batu karang, tetapi dengan proses pengolahan yang benar, mengikuti aturan tanam, dan kerja sama yang baik, akhirnya jagung bisa tumbuh dengan sangat baik,” jelasnya.
Apresiasi tinggi juga datang dari Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, Menurutnya, keberhasilan Kanwil Ditjenpas NTT dan Lapas Kupang membuktikan bahwa keterbatasan kondisi alam bukan menjadi penghalang untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. “Kalau dulu kita lewat tanah ini kosong dan berbatu karang, hari ini ternyata bisa ditanam dengan baik melalui kerja sama semua pihak. Ini membuktikan bahwa tanah berbatu di Kupang juga bisa menghasilkan jagung dengan kualitas yang sangat baik,” ujarnya.
Ia berharap model pengelolaan lahan seperti yang dilakukan di Lapas Kupang dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Nusa Tenggara Timur. “Ini bisa menjadi contoh bahwa melalui pembinaan perkebunan, warga binaan juga mampu mendapatkan keterampilan yang bermanfaat ketika kembali ke masyarakat,” tambahnya.
Senada dengan itu, Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Francis, menyebut keberhasilan tersebut sebagai inovasi luar biasa yang dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Kota Kupang dalam memanfaatkan lahan tidur. “Ini merupakan contoh nyata mendukung program ketahanan pangan Presiden Prabowo Subianto. Banyak lahan tidur di Kota Kupang yang sebenarnya bisa dimanfaatkan seperti yang dilakukan Lapas Kupang,” ujarnya.
Ketua DPRD Provinsi NTT, Emilia Julia Nomleni, turut memberikan apresiasi atas keberhasilan program tersebut karena tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga memberikan ruang pembinaan yang positif bagi warga binaan. “Warga binaan mendapatkan kesempatan bahwa mereka tetap dibutuhkan dan mampu berkarya. Ini sesuatu yang sangat penting dan berdampak baik,” katanya.
Sementara itu, DPD RI Perwakilan NTT, Ir. Abraham Liyanto, menilai keberhasilan panen jagung di atas lahan batu karang menjadi simbol kebangkitan NTT dalam sektor pertanian dan ketahanan pangan. “Di lahan yang sulit saja sudah bisa menghasilkan, apalagi di lahan yang subur. Ini harus kita dukung bersama dan perlu diviralkan agar menjadi motivasi bagi daerah lain,” ujarnya.
Apresiasi juga datang dari Bupati Kupang, Josef Lede, yang menyebut keberhasilan Kanwil Ditjenpas dan Lapas Kupang sebagai bukti bahwa sesuatu yang dianggap mustahil dapat diwujudkan melalui kerja sama dan kemauan kuat. “Ternyata warga binaan juga mendapatkan pendidikan yang luar biasa. Setelah keluar dari Lapas, mereka bisa menjadi petani yang sukses di tengah masyarakat,” katanya.
Direktur PT. Silvano Maynard Jaya, Silverter Sudin, menambahkan bahwa program pertanian jagung tidak hanya berorientasi pada nilai ekonomi, tetapi juga memiliki dampak besar terhadap penyerapan tenaga kerja di NTT. “Kami ingin membangun swasembada pangan di NTT. Tahun depan PT SMJ akan menanam 5.000 hektar jagung dan ini akan membuka lapangan pekerjaan yang sangat besar bagi masyarakat,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, Lapas Kelas IIA Kupang membuktikan bahwa pembinaan warga binaan dapat diwujudkan secara nyata melalui program produktif yang berdampak langsung bagi masyarakat. Dari lahan batu karang yang dahulu tandus, kini tumbuh harapan baru berupa hamparan jagung yang menjadi simbol pembinaan, kolaborasi, dan semangat membangun ketahanan pangan di Nusa Tenggara Timur.(AVID/rel)
#KemenimipasKerjaNyataPelayananPrima































