GAYO LUES | Sebuah video berdurasi singkat yang diunggah melalui akun Facebook Vitt Ta, Selasa 22 Juli 2026, menuai kehebohan dan menjadi perbincangan masyarakat di Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Video tersebut memperlihatkan aksi penggerebekan yang dilakukan oleh sekelompok warga, didominasi para ibu-ibu, bersama petugas Satpol PP, terhadap seorang oknum kepala desa dari Kendawi, Kecamatan Dabun Gelang, di sebuah rumah yang terletak di wilayah Blangtenggulun, Kecamatan Blangkejeren. Hingga kini, status rumah tersebut belum dapat dipastikan apakah rumah kontrakan atau rumah warga setempat.
Peristiwa penggerebekan itu bermula dari kecurigaan warga Blangtenggulun atas aktivitas mencurigakan seorang lelaki yang diketahui sebagai oknum kepala desa bersama seorang perempuan di dalam rumah tersebut. Begitu mendatangi lokasi secara beramai-ramai, warga mendapati keduanya berada di dalam ruangan tertutup. Suasana menjadi panas ketika para ibu-ibu meluapkan kemarahan dan melancarkan protes secara terang-terangan terhadap oknum kepala desa. Salah satu di antara mereka menggunakan bahasa daerah menegaskan, “Gecik Kendawi mah benen kini woy, tolong sawah peh ku inen e,” sebagai bentuk kegeraman atas tindakan yang dianggap mencoreng nama baik desa dan bertentangan dengan norma sosial setempat.
Dalam suasana yang penuh tekanan, warga Blangtenggulun menuntut penjelasan terbuka di lokasi. Mereka meminta dengan tegas agar oknum kepala desa beserta perempuan yang bersamanya membuktikan status hubungan mereka, mempertanyakan dan menantang, “Kalau memang sudah menikah, buktikan surat nikahnya di depan semua orang.” Tuntutan warga bukan sekadar untuk klarifikasi, namun juga sebagai upaya menjaga marwah dan kehormatan adat yang telah lama dipegang teguh di wilayah itu.
Di tengah aksi tersebut, Satpol PP berupaya menengahi dan menenangkan masyarakat, agar situasi tidak berkembang menjadi kericuhan yang lebih besar. Namun, sikap tegas warga Blangtenggulun menunjukkan kepedulian dan kontrol sosial masyarakat Gayo Lues, khususnya dalam mengawasi perilaku pejabat publik yang seharusnya menjadi teladan.
Pelaksanaan penggerebekan yang melibatkan banyak warga perempuan tersebut menjadi pembicaraan di media sosial dan menuai berbagai tanggapan dari masyarakat luas. Banyak pihak menyesalkan tindakan oknum kepala desa yang terjaring dalam kejadian itu dan mendesak agar ada transparansi serta proses hukum yang jelas. Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari oknum kepala desa Kendawi terkait konteks dan alasan keberadaannya beserta seorang perempuan di rumah tersebut, maupun terkait kejelasan status hubungan keduanya.
Warga Blangtenggulun berharap, peristiwa tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah, dengan langkah-langkah penegakan disiplin terhadap aparatur desa, agar kepercayaan masyarakat tidak terkoyak akibat tindakan yang melanggar norma. Kasus ini juga menjadi pengingat bagi siapapun yang dipercaya memimpin di tingkat desa agar senantiasa menjaga integritas dan memberi contoh yang baik di tengah masyarakat. Isu moral dan kepercayaan menjadi bagian penting yang kini dipertaruhkan, dan masyarakat Gayo Lues dengan tegas menuntut akuntabilitas serta kejelasan, demi menjaga martabat kampung dan nama baik adat setempat. (tim)

































